Archive for July, 2005

Abu-abu di Satu Senja

Tuesday, July 19th, 2005

Dolphin Awan mendung di Jumat sore 15 July itu memberi sentuhan warna abu2 di langit Thamrin. Tampaknya bukan hanya Thamrin…tp Jakarta, beberapa hari terakhir ini atmosfir Jakarta di sore hari selalu lembab karena hujan. Ternyata hari Jumat itu pun tak terkecuali.

Rencana untuk membeli beberapa kado ulang tahun yg pending sempat hampir urung karena mengingat aku nggak bawa payung bahkan harus hunting semua list barang yg sudah aku jot down sendirian. Hikz…berkeliaran sendiri di tengah hujan ( nggak segitunya bgt kaliii…emangnya belanjanya di kaki lima??) Dengan segala perhitungan dan menimbang rasa kanan kiri aku putuskan utk tetap mencari semua kado, harus…setelah lewat 3 bulan wo’ow…3 bulan, dah expired yah? 4 kado, kesatu utk cowo yg selalu bersikap annoying di ktr (fyiuh…however he is my friend anyway), ke-2 utk temen berantemnya cowok annoying ini yg kayaknya gak bakal pernah bisa diakurin, ke-3 utk calon dek’ip (adek ipar…ceileee) dan yg terakhir utk kakak iparku tersayang. Hmmm…bakal tiris dompetku bulan ini.

Daftar segitu masih belom termasuk my that sumone yg 2 hari setelah Jumat itu merayakan seperempat abadnya…maaf chayaaank…ngalah dulu ya kadonya, pasti dapet kok tapi gak skr kayanya :(

Keadaan alam masih tidak bersahabat sewaktu aku menyusuri jembatan busway, untung aku sempat mengganti sepatu ktrku dgn sepatu kets yg biasa kupakai fitnes, tp wo’ow…ternyata ketsku ini agak rawan di tempat yg agak berair..licin, gayaku memang keren pake kets tp cara jalannya kayak nenek2…bodo’ ah…dr pada harus meluncur gedubrak dari jembatan busway

Keadaan di dlm busway gak terlalu padat, tp antrianku sebelum masuk udah lumayan panjang, hasilnya…dgn cara berjalan ala nenek2 yg takut jatoh jadi tetep aja aku gak kebagian duduk. Hanya bisa bersandar pd tiang di paling belakang dgn wajah sedikit memelas berharap ada yg kasihan dan rela memberi duduk, tp ternyata tidak berhasil tetep aja aku berdiri berpelukan dgn tiang tersayang sampai org yg duduk di belakangku bergerak berdiri untuk turun, Alhamdulillah…akhirnya duduk. Tapi…ueggh…sempit nih, ya ampyuun org di sebelahku duduknya bener2 makan tempat, mentang2 cowok emang kl duduk kakinya mesti kebuka lebar2 yaa?? kayaknya gak juga gitu deeh…tp gpp lha yg penting duduk meskipun lengan kananku agak tertindas bahunya dan kaki kananku miring ke kiri. Setelah hamir lupa dgn nasib ketertindasan dudukku di busway itu tiba2 org itu bergerak berdiri, horeee !!! Turun juga nih org, tp…o’ow…yg menggantikannya lebih membuat tubuh ini lebih dilipat, berat badannya kurang lebih 3 kali lipat berat badanku. Hmm selamet menikmati deh Ta, ngedumel trs sih jadi dikasih yg lebih parah kan.

Ketika busway mulai memasuki kawasan Blok M, suasana di luar sudah gelap gulita, bukan karena sudah malam tp krn hujan deras kencang dan padat yg menghalangi pandanganku utk menembus keluar jendela busway yg mirip akuarium.

Sempat kebingungan jg aku stelah tiba di terminal Blok M..gmana caranya aku bisa sampe ke Plaza Blok M kl hujannya deres tanpa ampun ginih? Ojek payung…aduuh…buntu bener sih nih pikiran. Aku segera menggulung celana panjang hitamku dan mencari sosok sang pengojek, pasti dia membawa payung dan menawari jasanya, ada beberapa pilihan, tp mataku lgs tertuju pada sosok kecil yg sudah agak menggigil…ya Tuhan…makhluk spt ini ada di antara kerumunan pengojek payung…aku lgs menghampiri dia dan mngambil alih payung besar yg dipegang oleh tangan kecilnya yg gemetar. "kemana mbak?" "ke Plaza Blok M ya.." "Blok M Plaza maksudnya mbak?" duh…iya2 Blok M Plaza…

Dia berjalan di sisiku sambil memeluk tubuhnya sendiri, aku lgs menarik tangannya mengajaknya utk berpayung bersamaku, dia menjauh lg dan melihat bajuku, mungkin dia takut bajunya yg kuyub membasahi bajuku…aku berhenti "sini…pake payungnya bareng aja…ujannya deres bgt" "gak usah mbak…gpp" "Aduuuh..udah deh…sini nggak!" aku langsung meraih tubuhnya utk mendekat, hampir beku anak ini berkeliaran di tengah guyuran air sebanyak ini.

Dia sudah tdk berusaha menjauh lg didalam rangkulan tanganku, bajuku jadi tertular basah aku tau, tp tdk seberapa dibanding getaran tangannya yg menggigil.

"Masih sekolah?’ aku membuka bicara mencairkan kebekuan di senja itu dgn sang pengojek cilik. "Masih" "kelas brp?" "kelas3" "kok berani sih ngojek payung ginih?km kan masih kecil" dia cuma tersenyum. "Eh, km laki ato perempuan sih?" dia senyum lagi "perempuan mbak" "hehe…kirain cowok…abis berani bgt sih ujan2an gini. Namamu siapa sih?" "Novi.."  Wuups…aku hampir tertawa geli mendengar namanya..nama si cnop, teman dekatku di ktr…nopi..nopi…gw lg ujan2an ama si nopi niiih…hehehe…"nama panjangnya?" "Novita Sari" hwuihihihihihehehhehihihi… beneran nama si cnop! "Oh.." cm itu yg keluar dr mulutku sambil berusaha menahan senyum yg hampir jd ketawa.

Aku terus melemparkan pertanyaan2 yg selalu menggelitikku utk tau dr seorang anak spt novi ini. Berjuang di tengah sesuatu yg seharusnya bukan menjadi tempatnya. Kata2 yg keluar dr mulutku sebenernya gak memberi pengaruh besar utk bisa membuat Novi meninggalkan pekerjaannya, dgn segala alasan menolong sang nenek dan utk biaya sekolah spt mjd kalimat klise yg sudah malas aku dgr dr mulut bocah seusia novi ini "Nenek km gak sayang kali sama km, masa cucunya dibiarin ujan2an nyari duitnya?" Novi tdk menjawab, terlalu kejam mgnkn pertanyaanku, tp sumpah…melalui hal2 spt ini membuatku ingin lebih mengetahui kehidupan dr bocah2 yg bernasib spt novi, sudah seberapa maksimal org tuanya dan saudara2 dewasanya melakukan pekerjaan yg sudah sepantasnya mereka lakukan, dan bukan dilakukan oleh Novi. "Km kesini naik apa?" "bus" "Km tau alamat lengkapmu?" dia diam…mngkn dia mulai sadar aku ingin terlalu byk tau. Tiba2 di depan kami melintas seorang bocah laki2 yg umurnya jauh lebih kecil dari Novi, sekitar 5 - 6 thn. "Tuh liat tuh anak kecil…masa masih segitu udah ikut2an ngojek payung??" aku menunjukkannya ke Novi.."Itu adikku mbak" "Haaaaah?? adikmu?? panggil2! Cepetan! Suruh ikut aja!"  Novi berteriak memanggil nama adiknya, adiknya menoleh "Ikut aja yuk!" teriak Novi…adiknya menggeleng dan cepat2 lari dgn kaki kecilnya yg telanjang tanpa alas lalu menghilang di telan guyuran hujan. Aku hanya bisa ternganga.

O God…benar2 pemandangan senja yg menyedihkan…2 bocah bersaudara yg berkeliaran di terminal Blok M di tengah hujan yg nyaris badai spt ini. Tp Wajah mereka spt tanpa beban…mreka menjalani keadaan apa adanya. Satu makna yg kupetik dr sosok seorang novi kecil di akhir jumat itu, simple…just trying to survive!

Setelah tiba di pelataran Plaza Blok M, aku spt tdk rela melepas novi kembali ke tengah hujan. Tp, aku hanya seorang pelanggannya, bukan ibunya. Kusentuh gelang merahku yg melambangkan kepedulian terhadap anak2 spt Novi. Kusematkan uang yg agak lebih sedikit sebagai upah pinjaman payungnya…"Ini utk km nabung ya…jgn digunakan yg nggak2" ia mengangguk…"hati2 ya Nov…" Novi kecil tersenyum…Lalu ia membalikkan badan meninggalkan aku yg masih berdiri memandangi tubuh kecilnya yg lincah berlari kembali ke pelukan hujan…

Coretan Embun

Sunday, July 3rd, 2005

Hembusan angin lembut menyentuh telingaku, matahari masih setengah terlelap saat aku bergerak menuju kantorku. Sepagi ini aku berangkat kerja bukan tanpa alasan, tapi karena sudah janji dgn seseorang utk mulai fitnes di kantor. Dengan perasaan tidak terlalu byk berharap aku pastikan tetap bukan masalah seandainya hrs sampe ktr pagi buta dan ternyata teman janjianku terlambat sehingga membuatku urung lagi untuk bisa mulai fitnes di senin pagi ini. Dan memang benar, yg terjadi selanjutnya aku dapat kabar temanku dipastikan datang terlambat. Saat aku mulai menulis sesuatu sekarang ini, masih mngkin bila temanku satu itu datang niat fitnesku masih kesampaian, tapi teteup….aku gak terlalu ngoyo, hari ini batal…mungkin besok.

Gak penting ngebahas fitnes pagi ini…let’s see what else I can say…

Aku pernah janji pada para sahabat, teman dekat, yg biasa aku sebut "d’kurcacies" utk sedikit bercerita ttg mereka di sini…Guys…it’s not b’coz I’m forget but so many things happen lately that took more than a half of my mind to handle. I know we rather rarely to talk lately, but for u to know…u guys will still have the big part of me…

Satu kabar bahagia dari kabar terakhir yg aku tau…salah satu sahabatku tercinta diangkat menjadi sales manager assistent di hotel tempat dia mengumpulkan segenggam berlian selama ini. She said that God has given her so many preciouse things that fulfilled her June happines. We all proud of her…! Ditambah lagi kedekatannya dgn seorang dokter gigi asal Bandung yg menurut dia for the first time she try to make a special relation wz sumone wz this kind of level…  What a goal, Dude!

Saat tadi aku bilang byk hal yg menyita pikiranku akhir2 ini…it’s not a bullshit…karena pagi ini aku baru bisa bernafas lega dan berucap syukur dgn hati saat kuingat konflik terakhir yg terjadi berujung pada keharuan terdalam tadi malam.

Satu hal yg kupetik dan kusimpan dikantong hatiku adalah…cinta dalam bentuk apapun hanya dpt dirasakan dgn keterbukaan, pengertian, dan berusaha memahami dan menghargai perbedaan.

Aku bukan sempurna…seberapapun kebenaran yg berhasil kuungkap dan kuutarakan bukan wujud kesempurnaan yg kupunya, tapi pembelajaran terhadap diri sendiri untuk mendapat damai atas seluruh cinta dalam segala bentuk yg mengelilingi hidupku…

Untuk seluruh keluargaku…Papa, Mama, A’a, Ossy, Uwen..Terimakasih untuk memberiku kesempatan seperti tadi malam. Aku percaya atas kasih sayang kalian terhadapku…dan percayalah…Cintakupun tak kalah besarnya untuk kalian. Airmata bahagia tadi malam, aku yakin akan selalu menjadi kristal embun yg menerangi rumah tempat kita bernaung…

I love you all….

And for my "that sumone"…God show me that only to your shoulder I can lean on…Kamu kekuatan terbesarku untuk tersenyum dalam isak tangisku…I’m so Damn Loving You!!!